Showing posts with label WISATA dan MITOS. Show all posts
Showing posts with label WISATA dan MITOS. Show all posts

Saturday, June 9, 2012

Kolam Garam Warna-Warni di Teluk San Fransisco

Kolam Garam Warna-Warni di Teluk San Fransisco
Jika Anda pernah terbang di atas Teluk San Francisco, pastikan untuk mengintip keluar jendela untuk melihat sekilas salah satu pemandangan dunia yang paling sangat berwarna - kolam penguapan garam dioperasikan oleh Cargill, Inc



Kolam Penguapan Garam adalah kolam dangkal buatan yang dirancang untuk menghasilkan garam dari air laut atau air asin lainnya. Air laut atau air garam dimasukkan ke kolam besar dan air dipisahkan dengan garam melalui penguapan alami yang memungkinkan garam untuk dipanen. Diperlukan lima tahun bagi air teluk untuk benar-benar berubah menjadi air garam, kemudian dipindahkan dari satu kolam penguapan ke kolam yang lain. Pada tahap akhir, ketika air garam sepenuhnya jenuh, ia dipompa ke Crystalizer dimana hamparan garam setebal 5 sampai 8 inci siap panen.

Warna Tambak garam berkisar dari hijau biru hingga magenta gelap - berwarna alami oleh mikroorganisme yang berkembang bersama meningkatnya salinitas. Warnanya menunjukkan salinitas tambak dan jenis mikroorganisme yang sedang berkembang biak di atasnya. Tiga mikroorganisme khususnya, Synechococcus, Halobacteria, dan Dunaliella, mempengaruhi warna tambak garam.


Pada kolam dengan salinitas rendah, baik warna dan mikrobiologi sesuai dengan perairan hijau biru dari San Francisco Bay. Saat air garam terkonsentrasi, ganggang, termasuk Dunaliella, memberikan warna hijau pada air asin. Saat salinitas meningkat, Dunaliella muncul bersaing dengan mikroorganisme lain dan warna menjadi bervariasi dari hijau pucat ke hijau cerah kekuning-kuningan. Pada tengah malam, meningkatnya salinitas kolam, meningkatkan populasi udang air garam kecil. Air garam garam dengan salinitas tertinggi, atau acar, akan berwarna merah tua, karena Halobacteria mengambil alih dan hipersalinitas air garam memicu pigmen merah terbentuk dalam protoplasma Dunaliella itu.


Palet warna kolam garam mencerminkan banyaknya biota mikro. Namun itu baru sebuah awal. Ganggang dan mikroorganisme lainnya menciptakan dasar untuk ekosistem yang lebih kaya, mendukung lebih dari satu juta burung-burung pantai, unggas air dan satwa liar lainnya. Pada saat yang sama, makhluk-makhluk kecil itu juga mengatur kualitas air - yang mempromosikan pengembangan garam yang lebih berkualitas.

Source

Thursday, June 7, 2012

Gua Sunyaragi, Sisa-Sisa Kejayaan Keraton Cirebon


Gua Sunyaragi, 
Sisa-Sisa Kejayaan Keraton Cirebon
Jika kita ingin melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu Keraton Cirebon, mampirlah ke Taman Sunyaragi atau biasa disebut dengan Gua Sunyaragi!
Taman
Aroma kemegahan langsung terasa begitu kami menjejakkan kaki di pintu masuk Taman Sunyaragi. Susunan batu-batu yang tidak teratur, tetapi menampakkan kegagahan dan kepongahan tamansari yang merupakan salah satu bagian bangunan kerajaan di masa lalu.


Tamansari Sunyaragi adalah salah satu peninggalan sejarah di Kota Cirebon, setelah Keraton-Keraton, seperti Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Masjid Walisangan Ciptarasa. Letaknya yang berada ditengah-tengah Kota Cirebon, yaitu di Jln.Brigjend. A.R.Dharsono, menjadikan bangunan bersejarah ini sangat mudah sekali dijangkau. Barangkali kalau mau bertanya, niscaya hampir seluruh masyarakat Kota Cirebon akan mengenalnya.
Luas situs ini kurang lebih 1,5 Ha, merupakan peninggalan para Sultan Cirebon. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh oleh Pangeran Kararangen. Sedang Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon sendiri. Tamansari Sunyaragi telah beberapa kali mengalami perbaikan, yang pertama adalah pada tahun 1852 M, yaitu zaman pemerintahan Sultan Syamsudin IV, setelah dilanda kerusakan oleh serangan Belanda pada tahun 1787 M, bangunan ini direnovasi untuk yang pertama kali. Kedua adalah pada tahun 1937-1938 M pernah dipugar oleh Pemerintahan Belanda yang pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan di Semarang, Krisjnan namanya.


Pada zaman Orde Baru, dimana tengah dilaksanakan pembangunan nasional, maka Pemerintah dalam hal ini Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direkorat Jenderal Kebudayaan, memugar taman ini secara keseluruhannya sejak tahun 1976 sampai tahun 1984. Setelah selesai pemugarannya, pengunjung Tamansari Sunyaragi semakin meningkat, baik kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, maupun wisatawan asing. Dan, kondisi sekarang ini, keadaannya cukup memprihatinkan, selain kebersihannya kurang terjaga, rumput ilalang banyak tumbuh disana-sini, juga bangunan-bangunan yang ada mulai terlihat tergerus oleh panas dan hujan.

Seperti layaknya sebuah keraton, begitupun dengan Tamansari Sunyaragi, terdiri dari bagian-bagian yang sangat luas dengan fungsinya masing-masing. Bagian pertama adalah Gua Pengawal, gua ini adalah sebagai pusat para prajurit yang bertugas mengawasi keadaan Tamansari. Bagian kedua adalah Bangsal Jinem, tempat ini biasanya dipergunakan sebagai tempat pertemuan tamu-tamu keraton yang mengunjungi tamansari. Bagian ketiga adalah Gua Peteng, gua ini memang keadaannya sangat gelap sekali, makanya dinamakan gua peteng. Dulu, para pangeran dan para sultan banyak lelaku, dan lelaku-lelaku itu biasanya dilakukan di Gua Peteng. Bagian keempat adalah Gedung Penembahan, yang terdiri dari ruang kaputran-tempat bersoleknya para Pangeran, dan ruang Kaputren--tempat bersoleknya para Putri Keraton.

Bagian selanjutnya adalah Balai Kambang, adalah suatu bangunan dengan luas 25 meter persegi, yang menurut ceritanya, bangunan ini zaman dulu dikelilingi oleh air. Sehingga para tamu bisa langsung masuk dari pintu pertama langsung menuju Balai Kambang dengan menggunakan perahu. Kemudian para abdi keraton menyambut tamu yang hadir dengan menabuh gamelan diatas Balai Kambang. Terus menyusuri gua, kemudian kita akan sampai di Gua Padang Ati, adalah tempat semedinya para Pangeran mencari petunjuk Sang Ilahi, terutama jika sedang ada suatu permasalahan. Di sebelahnya adalah Gua kelanggengan, gua ini dipercaya sebagai tempat yang dapat melanggengkan pernikahan keluarga, atau seseorang yang ingin segera mendapat jodoh.
Selain gua-gua tersebut di atas, juga terdapat taman-taman yang dipercaya sebagai taman-taman yang sangat indah pada waktu zamannya. Indah karena taman-taman tersebut, nampak dari petilasannya, tersusun sangat rapi dan bernuansa romantis. Terbuka, bisa memandang langit dengan leluasa dan disertai dengan tempat duduk dari batu sebagai tempat bersantai. Taman-taman tersebut adalah Taman Bajenggi Obahing Bumi, Taman Puteri Bucu, Perawan Sunti, dan Taman Kaputren. Sayangnya ada beberapa bagian yang sudah mulai rusak bahkan lapuk ditelan masa. Seperti sisi utara tamansari ini dinding-dindingnya retak-retak, bahkan bisa membahayakan para pengunjung kalau kerikil-kerikil yang menempel pada temboknya jatuh dan mengenai salah satu anggota tubuh kita. Beberapa sudut gua juga banyak sekali sarang nyamuk, menunjukkan bahwa tempat ini jarang dibersihkan. Namun, dari segala kekurangan tempat ini, Tamansari tetap mempunyai daya tarik untuk dikunjungi, mengingat bangunan ini mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia untuk generasi masa depan.



Sejarah Pembangunan Gua Sunyaragi
Sejarah berdirinya gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi yang kedua adalah versiCaruban Nagari yaitu berdasarkan buku “Purwaka Caruban Nagari” tulisan tangan Pangeran Kararangen tahun 1720. Namun sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari berdasarkan sumber tertulislah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi yaitu tahun 1703 Masehi untuk menerangkan tentang sejarah gua Sunyaragi karena sumber tertulis lebih memiliki bukti yang kuat daripada sumber-sumber lisan. Kompleks Sunyaragi dilahirkan lewat proses yang teramat panjang. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon.


Namun menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun karena Pesanggrahan ”Giri Nur Sapta Rengga” berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Terutama dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lain-lain. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candra sengkala ”Benteng Tinataan Bata” yang menunjuk angka tahun 1529 M.


Di Tamansari Gua Sunyaragi ada sebuah taman Candrasengkala yang disebut ”Taman Bujengin Obahing Bumi” yang menunjuk angka tahun 1529. Di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura ”Candi Bentar” yang sama besar bentuk dan penggarapannya. Pangeran Kararangen hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja.


Arsitektur Gua Sunyaragi
Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atauTiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa.


Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang,Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusiaberkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukkan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat yang berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu.


Gaya Cina terlihat pada [[ukiran] bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui coraknya yang pasti. Penempatan [[keramik|keramik-keramik] pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendungseperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernamaOng Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.


Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya, relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasalatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.


Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut memengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi. Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.
Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempatbertapa seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat salat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkanjodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu.


Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkelai.


Upaya Pemugaran
Tahun 1852 taman ini sempat diperbaiki karena pada tahun 1787 sempat dirusak Belanda. Saat itu, taman ini menjadi benteng pertahanan. Tan Sam Cay, seorang arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh karena dianggap telah membocorkan rahasia gua Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman Sunyaragi juga terdapat patok bertulis ”Kuburan Cina”.

Pemugaran Tamansari Gua Sunyaragi pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938. 


Pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Ia hanya memperkuat konstruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun kadang-kadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan. Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara gedung Jinem dan Mande Beling.


Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini.


Bangunan tua ini hingga kini masih ramai dikunjungi orang, karena letaknya persis di tepi jalan utama. Tempat parkir lumayan luas, taman bagian depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan. Terdapat juga panggung budaya yang digunakan untukpementasan kesenian Cirebon. Namun keadaan panggung budaya tersebut kini kurang terurus, penuh dengan tanaman liar. Kolam di kompleks Taman Sari pun kurang terurus dan airnya mengering.


DETAIL AREA
Pemandangan sebuah struktur bangunan Kaputren di kompleks Gua Sunyaragi yang terlihat seperti belum lengkap dengan lubang masuk dan jendela berbentuk lengkung pada bagian atasnya yang tampaknya dipengaruhi gaya bangunan Eropa. Struktur di sebelah kanan dan bagian depan menyerupai bentuk sebuah kolam pemandian, atau Tamansari, namun airnya telah tidak ada lagi.
Sebuah bangunan di Gua Sunyaragi yang berbentuk seperti sebuah sangkar besar beratap dua tingkat, yang mungkin berfungsi sebagai sebuah pesanggrahan atau tempat untuk bermeditasi. Untuk mengenal Gua Sunyaragi, dengan begitu banyaknya nama tempat di kompleks ini, tidak bisa tidak anda membutuhkan seorang pemandu.
Gua Sunyaragi Cirebon
Struktur bebatuan karang Gua Sunyaragi yang bentuknya menyerupai awan, sebuah corak kota Cirebon yang dikenal dengan sebutan Mega Mendung.
Gua Sunyaragi Cirebon
Dinding bebatuan Gua Sunyaragi yang berbentuk gunung-gunungan, seperti layaknya rumah semut yang sepintas terkesan serampangan, dan di bagian tengah terlihat patung batu kasar berbentuk gajah dalam ukuran kecil.
Gua Sunyaragi Cirebon
Mande Beling di Gua Sunyaragi yang beratap cungkup Joglo tunggal, yang menunjukkan pengaruh Hindu Jawa, di tengahnya terdapat pendopo batu tinggi bersegi empat dengan permukaan halus. Ketika Sultan Cirebon menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, sedangkan Mande Beling digunakan Sultan untuk beristirahat ketika di Gua Sunyaragi.
Gua Sunyaragi Cirebon
Di ujung kiri bawah adalah salah satu patung Gua Sunyaragi yang bernama Patung Perawan Sunti, yang menurut mitos setempat dipercayai bahwa jika seorang gadis memegang patung batu tersebut maka ia akan sulit untuk mendapatkan jodohnya.
Gua Sunyaragi Cirebon
Patung Perawan Sunti itu berada di depan Gua Peteng, yang merupakan gua utama di situs Gua Sunyaragi yang digunakan untuk bersemadi dan menyepi para Sultan Cirebon.
Gua Sunyaragi Cirebon
Sebuah patung batu di Gua Sunyaragi dengan kepala berbentuk kepala burung Garuda dan tubuh serta kaki manusia, tengah duduk dengan posisi kaki terbuka, dengan badan dililit ular besar, terlihat agak samar di tengah bebatuan yang berbentuk tidak beraturan.
Gua Sunyaragi Cirebon
Pintu gerbang bagian dalam Gua Sunyaragi. Adalah sejak pengelolaan Gua Sunyaragi diserahkan kepada Keraton Kasepuhan pada tahun 1997, kondisi Gua Sunyaragi ini kian lama kian terbengkalai. Penyerahan itu mungkin karena Gua Sunyaragi ini dahulunya merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati, yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.


Mungkin sudah waktunya Kompleks Gua Sunyaragi pengelolaannya diambil alih kembali oleh pemerintah, karena selain memerlukan perhatian yang lebih baik, situs Gua Sunyaragi ini juga perlu dipugar secara menyeluruh sehingga bisa menjadi sebuah situs yang mampu menunjukkan keagungan Kesultanan dan budaya Cirebon masa lalu dan kini.


Gua Sunyaragi Cirebon
Jl. Brigjen Darsono,
Kelurahan Sunyaragi, Kesambi,
Kota Cirebon
GPS: -6.73709, 108.54338


http://travel.detik.com/read/, http://thearoengbinangproject.com/

Kedung Putri Randublatung Jawa Tenggah


Kedung Putri Randublatung Jawa Tenggah
Tempat mandi putri Citro Wati


Kedung Putri adalah suatu situs budaya yang pada masa lalu sampai sekarang banyak menyimpan misteri, bahkan berbau mistik yang konon menurut cerita tempat ini sering dipakai mandi oleh Citro Wati putri raja Purwocarito yang cantik Jelita.


Kedung Putri terletak di sebelah utara Kecamatan Randublatung, kurang lebih 10 km dari pusat kota Randublatung, tepatnya di hutan petak 52 RPH Gumeng BKPH Temanjang, KPH Randublatung. Secara administrative turut wilayah Desa Tanggel Kecamatan Randubaltung Kab. Blora.


Begitu kentalnya muatan mistik di lokasi ini menjadikannya cukup terkenal di Randublatung. Legenda Kedung Putri dimulai pada jaman dulu dimana terdapat suatu daerah yang bernama Negara Purwocarito (sekarang Desa Gumeng) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Dian Gondo Kusumo dengan permaisuri Loro Girah, Pasangan raja dan permaisuri ini dikarunia 3 orang  anak yaitu  Citro Menggolo, Citro Kusumo dan Citro Wati.


Masing-masing keturunan raja Dian Gondo Kusumo diberikan kekuasaan untuk memimpin tiga kerajaan. Masing-masing adalah Citro Menggolo kerajaanya di Mlumpang (sekarang Desa Trembes), Citro Kusumo kerajaannya di Bale Kambang (sekarang Desa Temetes) dan Citro Wati kerajaanya di Purwocarito (sekarang Desa Gumeng).


Salah seorang dari ke tiga anaknya yaitu Citro Wati mempunyai paras yang  cantik jelita. Karena kecantikannya itu maka banyak putra raja yang lain atau dari golongan bangsawan tertarik dan ingin meminang Citro Wati. Sampai pada akhirnya Putri Citro Wati  dilamar oleh 2  raja, yaitu Begede Katong dari kerajaan Pandan (Sekarang Desa Njetak Wanger,Ngawen) dan Jonggrang Prayungan dari kerajaan Atas Angin. Kedua raja tersebut akhirnya perang untuk merebutkan Cito Wati. Keduanya belum ada yang kalah dan menang dalam peperangan tersebut. Akhirnya Citro Wati datang dan menolak keduanya (Begede Katong dan Jonggrang Prayungan).


Karena merasa ditolak, Begede Katong marah dan mendatangkan angin ribut untuk menghancurkan negara Purwocarito. Akibatnya negara Purwocarito luluh lantah rata dengan tanah.


Beberapa hari kemudian Begede Katong tidak putus asa walapun cintanya di tolak. Dia tetap berangkat menuju kerajaan Purwocarito untuk melamar Citro wati. Sesampainya di suatu tempat dataran tinggi, Begede Katong melihat Citrowati sedang mandi di sendang, begitu melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Citrowati, birahi Begede Katong memuncak dan meneteslah air maninya, yang sekarang menjadi Banyu Tes, di dukuh Temetes. ”Sendang tetes” tersebut sampai sekarang dipercaya oleh masyarakat bisa menyembuhkan impotensi dan membangkitkan libido bagi kaum pria apabila mandi di tempat tersebut.
Situs Banyu Tes
Setelah itu Begede Katong melanjutkan perjalan kembali. Sesampainya di Gunung Serangkang, dia bertemu dengan Jonggrang Prayungan musuh bebuyutannya, dan keduanya saling berperang lagi. Keduanya berperang saling membunuh sehingga menyebabkan semua perangkat untuk melamar yang dibawa oleh Begede Katong berserakan dan terlempar jauh ke tempat lain. Tempat upeti (Bokor Kencono) terlempar ke Desa Pengkol (Kec. Banjarejo) yang dinamakan Kedung Bokor, Sirih (bahasa jawanya Suruh) terlempar ke Desa Banyuurip yang dinamakan Suruhan, Gemblongnya (dodol) yang teriris–iris terlempar ke Desa Temetes yang dinamakan Tiris, sedangkan emban yang membawa Bokor Kencono bernama Denok meninggal dan dikubur dengan di tandai Pohon jati yang sampai sekarang jati tersebut masih hidup dan dinamakan “Jati Denok”. Walaupun Begede Katong memaksa melamar, Cito Wati tetap tidak mau menerima lamaran Begede Katong. Meskipun ditolak cintanya, Begede Katong tidak mau kembali ke negaranya.
Jati Denok
Citro Wati mempunyai kebiasaan yang setiap hari tidak pernah ditinggalkannya yaitu mandi di sungai (Kedung) yang sekarang dinamakan Kedung Putri. Begede katong memanfaatkan situasi tersebut yaitu dengan merubah dirinya menjadi ikan gabus (Kutuk) dan masuk ke dalam sungai. Pada saat Citro Wati mandi di sungai, ia melihat ikan gabus (kutuk) yang sebenarnya adalah  jelmaan Begede Katong. Citro Wati sangat  senang melihat ikan tersebut dan ia pun bermain di sungai (kedung) itu tanpa curiga sedikitpun akan keberadaan ikan tersebut. Karena seringnya bermain dengan  ikan gabus (kutuk) tersebut, tanpa disadari ia bercinta dengan ikan gabus jelmaan Begede katong yang pada akhirnya menyebabkan Citro Wati hamil.


Citro Kusumo kakak Citro Wati marah melihat adiknya hamil tanpa diketahui siapa yang menghamili adiknya. Citro Wati tidak boleh melahirkan melalui alat vitalnya tetapi harus melalui perut sebelah kiri. Perut Citro Wati ditusuk dengan keris oleh Citro Kusumo dan keluarlah dari perut Citro Wati anak ikan gabus (Kutuk). Keanehan yang terjadi pada anak Citro Wati  menjadikannya sebuah larangan bagi masyarakat dusun Gumeng bahwa mereka tidak boleh makan ikan gabus (kutuk) karena itu merupakan darah dagingnya Citro Wati. Karena ditusuk perutnya, Citro Wati pingsan dan tidak sadarkan diri. Citro Wati diseret oleh Cito Kusumo dan di siram air. Akhirnya Citro Wati sadar dan air yang dipakai untuk menyiram Citro Wati dinamakan Banyuurip.
Sampai sekarang banyuurip masih tetap ada dan selalu dijaga keberadaanya karena dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.


Setelah kejadian itu, Citro Wati berjanji tidak akan kawin sebelum ketemu Joko Sayuto dengan pengapit Joko Santoso. Citro Wati semedi di sungai (kedung Putri) sambil menunggu Joko Sayuto dan Joko Santoso.


Cerita Legenda yang masih melekat pada Kedung Putri, bagi masyarakat dusun Gumeng merupakan salah satu peninggalan sejarah yang harus dijaga, baik lokasi, peninggalan-peninggalannya maupun nilai-nilai spiritualnya.


Saat ini, tradisi yang dilakukan masyarakat dusun Gumeng di Kedung Putri adalah upacara sedekah bumi. Tujuannya adalah untuk meminta berkah dan keselamatan bagi dusun Gumeng dan daerah sekitarnya. Terkadang ada juga yang melakukan ritual khusus di tempat ini yaitu memberikan sesaji yang tujuannya untuk meminta kekayaan (pesugihan).


Sumber :  http://www.kphrandublatung.perumperhutani.com/

Monday, June 4, 2012

Kota yang Tenggelam di China

Kota yang Tenggelam di China
Danau Qiandao atau Thousand Island Lake (danau ribuan pulau) terletak di Zhejiang, Cina, sekitar 150 kilometer dari kota Hangzhou. Ini adalah sebuah danau buatan yang terbentuk setelah selesainya PLTA Sungai Xin'an. Pada tahun 1959, dalam rangka membangun Waduk Xin'anjiang, lembah itu dibanjiri dengan air dan menghasilkan danau seluas 573 km persegi atau waduk dengan kapasitas penyimpanan 17,8 km kubik. Danau ini diberi nama ribuan pulau karena danau ini dihiasi dengan 1.078 pulau besar dan beberapa ribu lebih kecil di permukaannya.
The city of Shi cheng under water.
Qiandao Lake, dikenal dengan airnya yang jernih, dan kadang-kadang dapat diminum, digunakan untuk memproduksi air mineral merek Nongfu Spring. Danau ini juga rumah bagi hutan lebat (lebih dari 90%), dan pulau-pulau eksotis. Dalam beberapa kali, sudah berubah menjadi tempat wisata dengan pulau bertema yang mencakup Pulau Burung, Pulau Ular, Pulau Monyet, Lock Island dan Pulau yang Mengingatkan Anda kepada masa kecil Anda.

Ini adalah PLTA Xinanjiang. Lembah itu dibanjiri pada tahun 1959 untuk membuat danau dalam proyek Dam Sungai Xin'an


Thousand Island Lake (Qiandao Lake) merupakan danau buatan manusia yang terletak di Zhejiang, Cina
Tapi apa yang terletak di bawah danau mungkin lebih menarik dari danau itu sendiri.

Sebelum lembah dibanjiri, ada dua kota kuno yang megah berdiri di kaki gunung Wu Shi (Five Lion Mountain) - Shi Cheng dan He Cheng. Shi Cheng dibangun lebih dari 1300 tahun yang lalu yaitu di 621 M selama dinasti Tang (AD 618-907) dan pernah menjadi pusat politik, ekonomi dan budaya. He Cheng bahkan lebih tua: berdiri sejak 208 M selama dinasti Han (AD 25-200) sebagai pusat bisnis di sepanjang Sungai Xin'anjiang.
Kedua kota, He Cheng dan Shi Cheng tenggelam pada bulan September 1959 ketika pemerintah Cina memutuskan bahwa dibutuhkan pembangkit listrik tenaga air baru dan reservoir untuk memberi makan populasi yang terus berkembang di kota Hangzhou. Bersama dengan dua kota kuno tersebut, ada 27 kota, 1.377 desa, dan hampir 50.000 hektar lahan pertanian serta ribuan rumah hunian ditenggelamkan. Sebanyak 290.000 orang direlokasi untuk proyek tersebut. Sikap apatis pemerintah terhadap pelestarian dua kota kuno ini sangat mengejutkan.
Kota He Cheng dan Shi Cheng terlupakan selama 40 tahun sampai tahun 2001, ketika Qiu Feng, seorang pejabat setempat yang bertanggung jawab atas pariwisata, membahas cara-cara untuk memberikan hiburan di Danau Qiandao dengan menggunakan klub penyelam yang berbasis di Beijing. Dia berpikir tentang menggunakan kota-kota yang ditenggelamkan dan meminta penyelam untuk dapat menyelam sehingga mereka dapat melihatnya.
Pada tanggal 18 September 2001, upaya pertama dilakukan untuk mencapai kota tenggelam tersebut. "Kami beruntung. Begitu kami menyelam ke dalam danau, kami menemukan dinding luar kota dan bahkan mengambil batu bata," kata Qiu dalam sebuah wawancara. Qiu cepat melaporkan penemuannya kepada pemerintah daerah. Saat penelitian lebih lanjut dilakukan, ditemukan bahwa seluruh kota, yang terendam selama beberapa dekade, masih utuh. Bahkan balok kayu dan tangga terawetkan dengan baik dibawah air danau.

Pada tahun 2005, departemen pariwisata setempat menemukan tiga kota kuno tambahan di bawah air. Pada tanggal 7 Januari 2011, kota-kota kuno dinilai sebagai peninggalan tingkat provinsi. Pada bulan berikutnya, majalah Nasional Geografi  China, mencetak Foto kota. Pemerintah daerah bersemangat, tetapi bagaimana untuk melestarikan kota-kota kuno tersebut tetap menjadi masalah.
Diving in China, Qiandao Lake, posted in 2009


Beberapa ahli menyarankan membangun tembok pelindung dan memompa air keluar dari kota. Namun, metode ini sangat mahal, dan dinding tidak dapat menahan tekanan.

Kemudian diusulkan agar kota-kota yang terendam dibuka bagi wisatawan. Sebuah kapal selam sepanjang 23,6 meter, dan tinggi 3,8 meter dengan kapasitas tempat duduk 48 kursi dibangun dengan biaya 40 juta yuan ($ 6.360.000) untuk kunjungan bawah air. Tapi karena selesai pada tahun 2004, kapal selam tidak pernah digunakan. Pejabat lokal mengatakan hukum tidak memungkinkan kapal selam menyelam ke dalam perairan pedalaman. Selanjutnya, tidak ada aturan yang mengatur kapal selam sipil. Bahkan jika secara resmi disetujui, kapal selam dapat menyebabkan aliran air yang kuat di bawah air, yang dapat merusak bangunan.

Beberapa ahli percaya bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah tidak melakukan apa-apa, karena keterbatasan teknologi. "Sebelum kita memanfaatkan peninggalan budaya kita, kita harus melindungi mereka," kata Fang Minghua, mantan direktur Kantor Manajemen Chun'an County Heritage. Dia mengatakan bahwa teknologi saat ini tidak menawarkan pilihan yang layak.

CCTV Travels Underwater to Ancient City


Fang menggunakan contoh dua balok kayu dari kota kuno yang secara bertahap mulai menyusut ketika dibawa keluar dari lingkungan bawah air mereka dan terkena udara. Air menawarkan perlindungan kayu yang lebih baik; paparan udara meningkatkan kemungkinan kerusakan. Selanjutnya, dinding yang halus dapat runtuh karena perubahan arus air. Fang menunjukkan bahwa berlayar, memancing, atau menggali pasir di danau tersebut dan sekitarnya harus dilarang.

Pada akhir 2002, Institut Mekanika, Akademi Ilmu Pengetahuan China mengusulkan membangun Jembatan Archimedes, juga dikenal sebagai suspended tunnel. Jembatan Archimedes adalah proyek sulit. Tujuh negara sedang melakukan penelitian terhadap hal ini pada saat ini, termasuk Norwegia, Jepang, Swiss, Brasil, dan Amerika Serikat. Jika Jembatan Archimedes untuk Danau Qiandao berhasil, maka jembatan ini menjadi jembatan Archimedes pertama di dunia.


Source: Berbagai sumber

Pantai tanpa Laut - Playa de Gulpiyuri

Pantai tanpa Laut - Playa de Gulpiyuri
Playa de Gulpiyuri atau Pantai Gulpiyuri adalah pantai kecil yang terletak di tengah padang rumput rumput, dekat Llanes, sebuah kota kecil di sebelah utara central coast Spanyol. Pantai ini terletak 100 meter dari laut tetapi terhubung dengan laut oleh jaringan gua bawah tanah. Anda tidak akan melihat lautan luas di sepanjang pantai di sini tetapi sebaliknya, sebuah teluk kecil cantik akan menyambut Anda. Namun demikian, pantai ini masih memiliki gelombang saat air dari Teluk Biscay terus masuk melalui gua-gua bawah tanah. Dan pantai ini hanya 40 meter panjangnya, dan dangkal.


Source